Prolog :
Apa alasan utama, mengapa perempuan di sini mau dijadikan objek seperti ini?” Tanya seorang jurnalis bule kepada seorang gadis muda dengan yang duduk di sampingnya. Gadis yang duduk di sampingnya bukan gadis sembarang gadis, namun gadis yang sangat istimewa. Ya, sangat istimewa karena gadis tersebut lehernya dikerangkeng dengan lilitan alumunium yang terkesan sangat berat yang erat men-support lehernya yang panjang bak jerapah.

Dulu generasi orang tua selalu mengatakan bahwa kerangkeng di leher kami adalah untuk menghindari gigitan harimau. Untuk itulah maka leher kami harus dilindungi dari serangan harimau. Tetapi lama-lama kami tidak percaya hal ini, bukankah harimau bisa menginggit bagian tubuh mana saja bukan tidak musti harus di leher? Lalu setelah dewasa, kami menyadari, dengan meng-kerangkeng leher seperti ini, kami perempuan akan menjadi jauh lebih menarik, semakin panjang leher semakin dianggap cantik menarik.” Jawab gadis istimewa tersebut dengan bahasa Inggris dengan aksen kental.

Tidak ada protes..?

“Why…? kami melakukan dengan suka rela kok…”

Dear Kokiers,

Di belahan bumi manapun, perempuan suka tidak suka sering dilihat dan dinilai hanya dari segi fisiknya, semakin cantik atau menarik seorang wanita, kans untuk mendapatkan pasangan akan semakin terbuka lebar, bahkan kalau bisa mendapatkan pasangan yang bisa mengangkat derajad perempuan tersebut. Setidaknya pomeo ini berlaku sampai saat ini, dimanapun. Menyedihkan sekaligus memprihatinkan. Terkesan tidak adil memang, tapi inilah faktanya. Oleh karena itulah, berbagai cara dilakukan untuk menjadi cantik secara fisik.

Dan ini sama, berlaku di manapun di dunia ini selama masih ada makhluk perempuan. Seringkali para perempuan melakukan apa saja demi memperoleh status cantik di mata lelaki. (Baca : menurut standard kaum lelaki). Bahkan tidak jarang sampai menyakiti diri sendiri. Tentu saja standard cantik di berbagai daerah dan negara berbeda-beda. Beauty is the eye’s of beholder.

Yang dianggap cantik di negara tertentu, mungkin saja dianggap mengerikan bagi negara lain. Salah satunya adalah standard cantik yang dianggap ‘tidak wajar’ wanita di Kayan atau Karen, sebuah daerah terpencil dengan beberapa suku minoritas yang tinggal di perbatasan Burma dan Thailand, khususnya suku Padaung atau Pa Dong.

A PADAUNG DANCE. Source National Geographic; march 1922.

Para perempuan Kayan yang terdiri dari beberapa suku, untuk mengidentifikasi ciri khas di antara suku yaitu dapat dibedakan dari jenis pakaian adat yang dikenakan. Berbeda suku berbeda bahasa, adat dan ciri khas berpakaian. Adalah Suku Kayan Lahwi atau Padaung yang dikenal dengan ciri khasnya yaitu pemakaian neck ring atau kerangkeng leher. Leher yang dililit kalung berbentuk spiral yang dibuat dari tembaga berwarna kuning. Selain sebagai asesori juga sebagai lambang kecantikan wanita suku tersebut. Di sebuah pedesaan dalam salah satu film dokumenter National Geographic digambarkan, sebagai desa perempuan berleher jerapah, semua perempuan penduduk desa tersebut mulai dari kanak-kanak sampai nenek-nenek berusia lanjut mempunyai ciri khas, lilitan di lehernya.

PADAUNG COLD-WEATHER COSTUME . Source National Geographic; march 1922.

Pemakaian kalung istimewa ini dimulai ketika seorang anak berusia sekitar lima tahun. Yang biasanya pada anak seumur itu, hanya berupa dua lilitan. Setiap dua atau tiga tahun, kalung yang lebih merupakan sebagai kerangkeng yang mencengkeram leher, ditambah lilitannyaa misalnya dari dua menjadi empat atau lima lilitan. Demikian seterusnya, makin tua usia makin banyak lilitan di lehernya. Makin panjang pula lehernya. Dan karena beban kalung semakin berat seiring dengan bertambahnya umur, membuat tulang leher akan terus turun melesek dan menekan tulang punggung sehingga kedua pundak nampak tidak balance melorot. Dan leher kian panjang lurus bak leher jerapah.

TWO K├łKAWNGDU WOMEN MAKING PURCHASES IN THE KAWNG-I BAZAAR: BURMA .
Source National Geographic; march 1922.

Ironisnya, bertolak dari anggapan umum selama ini yang menganggap perempuan dengan kerangkeng leher akan dapat memperpanjang leher seorang perempuan, sejatinya adalah merupakan ilusi atau kesan yang ditimbulkan akibat leher yang secara paksa ditarik yang diakibatkan dengan rusaknya clavicle. Leher seakan nampak melar panjang secara paksa. Dari hasil X-ray diketahui bahwa tulang penyangga leher dan sekitar mengalami perubahan bentuk, dan mengakibatkan tulang dan otot leher sangat lemah, apabila pemakain kerangkeng leher ini selama puluhan tahun dan dilepas, akan sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian. Leher rentan sekali dan mudah patah.

Banyak alasan seputar pemakaian kerangkeng leher ini, ada yang percaya bahwa dulu, perempuan dipaksa dikerangkeng lehernya untuk memberi kesan kurang menarik bagi orang dari luar suku mereka, yang pada jaman tersebut, wanita yang dianggap cantik menarik akan dirampas secara paksa oleh suku lain dan selanjutnya dijadikan sebagai budak. Namun ada pendapat lain yang mengemukakan alasan sebenarnya bahwa pemasangan kerangkeng ini justru untuk membuat perempuan jauh lebih menarik dan nampak cantik dengan leher yang jenjang khas perempuan dan menciptakan sexual dimorphism, daya tarik seksual yang kuat bagi kaum lelaki. Pendapat kedua inilah yang lebih banyak diyakini.

Selain itu juga adanya pendapat bahwa lilitan kalung tembaga atau kerangkeng tembaga ini untuk membuat perempuan seperti naga yang artinya kuat sekaligus indah. Naga, adalah merupakan binatang suci suku Kayan. Seperti yang diuangkap di bagian prolog, secara literal, kerangkeng leher untuk mencegah gigitan harimau, sebenarnya kepercayaan itu lebih dipercaya sebagai makna simbolis belaka.

Para perempuan Kayan, kenyataannya paham sekali makna dibalik pemakaian kerangkeng leher, apapun alasannya mereka tidak keberatan karena sudah merupakan tradisi turun temurun. Walau mereka lebih bangga jika dikatakan bahwa kerangkeng leher ini sebagai lambang identitas khas budaya Kayan. Pemakaian kerangkeng ini tentu saja dalam prakteknya tidak akan membuat perempuan merasa tercekik, dan susah bernafas dan akan mengganggu aktifitas sehari-harinya. Yang ada bukannya mereka merasa terganggu namun mereka nampak wajar seperti perempuan normal lainnya. Mereka melakukan pekerjaan sehari-hari dari memasak sampai menenun tanpa hambatan.

Yang benar adalah, pemakaian kerangkeng selama bertahun-tahun akan melemahkan otot-otot leher dan membuat leher sangat beresiko untuk patah. Beberapa perempuan Kayan yang tinggal di kawasan pengungsi di Thailand, melepaskan kerangkeng dengan alasan medis, namun ada juga banyak dari mereka yang bersikeukeh memakai kerangkeng leher karena selain pelepasan kerangkeng bisa membahayakan mereka juga mereka para perempuan ini sudah menganggap lilitan tembaga di lehernya adalah bagian dari tubuhnya. Hal ini dilakukan oleh mereka yang sudah memakai kerangkeng leher puluhan tahun.

A GROUP OF PADAUNGS COME TO MARKET ARRAYED IN ALL THEIR FINERY.
Source National Geographic; march 1922
.

Tahun 2006 banyak generasi muda yang belum begitu lama memakai kalung terutama yang tinggal di kawasan Mae Hong Son memilih untuk melepaskan kerangkeng leher demi memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi. Ya, kesadaran pentingnya ilmu pengetahuan telah mulai merambah generasi muda wanita Kayan. Selain alasan studi, mereka memilih melepas kerangkeng leher juga sebagai bentuk protes terhadap eksploitasi budaya. Demikian juga para pengungsi yang tinggal di kawasan pengusi di Thailand melepaskan kerangkengnya. Walau sebagian mengaku, dengan melepaskan kerangkengnyaa ada rasa ketidak-nyamanan namun setelah tiga tahunan, mereka merasa lebih normal.

Perkembangan jaman telah merubah generasi muda untuk memilih meninggalkan tradsisi meng-kerangkeng leher, hanya di dearah-daerah yang terpencil masih sering dipraktekkan, generasi yang lebih tua tentu tetap mempertahankan tradisi ini. Di Thailand, wanita ber-leher jerapah, dewasa ini menjadi sangat popular di kalangan turis di seluruh dunia. Berbondong-bondong turis dari berbgai manca negara ingin melihat dan menyaksikan secara langsung. Pomosi gencar-gencaran terutama dari para operator turis di Thailand, menjadikan desa-desa terpelosok maupun kawasan pengsungsian menjadi terkenal.

Peluang ini tentu tidak disia-siakan, selain wanita berleher jerapah ini sebagai objek wisata, mereka juga dikaryakan dengan memproduksi hasil kerajinan masyarakat setempat. Walaupun tentu dengan berhasilnya upaya promosi wanita berleher jerapah ini, menimbulkan pro dan kontra. Banyak protes dari berbagai organisasi dunia yang ditujukan kepada pemerintah setempat dan pemerintah Thailand pada umumnya tentang eksploitasi budaya dan menjadikan para wanita tersebut sebai komoditi human zoo. Yang tentu saja dianggap tidak berperikemanusiaan.

Adalah Zember, nama salah seorang gadis Kayan yang namanya popular di berbagai negara, gara-gara gambar yang menampilkan dirinya saat dia masih kanak-kanak dengan senyum polos dan memamerkan leher jerapahnya, sebagai icon ajang promosi wisata yang dipasang di sebuah display di daerah turis di Thailand yang kelak mampu menarik jutaan pengunjung dari seluruh dunia namun juga sekaligus menggoncangkan dunia. Suku Kayan yang semula tidak banyak yang tahu mendadak melejit terkenal di saentaro jagad. Kayan identik dengan wanita eksotik berleher jerapah. Saat ini Zember berusia 23 tahun dan lehernya sudah tidak dikerangkeng lagi. Dia melepaskan kerangkengnya karena dia ingin melanjutkan studi dan juga gara-gara pihak penguasa Mae Hong Son, menolak memberikan dia ijin untuk ber-imigrasi ke New Zealand. Pihak penguasa tidak memberikan ijin karena Zember dianggap mewakili wanita eksotik berleher jerapah yang juga menjadi icon wisata Thailand.
Zember mengakui bahwa memang ada dampak negatif terhadap kepariwisataan karena dewasa ini banyak terjadi ekodus wanita berleher jerapah ke luar negeri. Semakin banyak perempuan yang melepaskan kerangkengnya, lalu siapa lagi yang bisa diharapkan sebagai faktor wisata? Dan rupanya, Inilah yang dikuatirkan oleh pemerintah setempat dengan pelarangan tersebut.

Dulu ketika saya masih sangat muda, saya bertekad untuk terus memakai kerangkeng leher demi memelihara tradisi, dan melestarikan budaya suku kami, jujur saya sedih harus melepaskan kerangkeng ini namun saat ini saya tinggal di kota, tak ada yang peduli siapa saya, dan tak ada lagi yang memandang saya dengan tatapan aneh. ” Demikian antara lain pengakuan Zember.

Masih menurut Zember, di desanya, jika turis ingin menyaksikan perempuan dengan leher jerapah mereka harus membayar, karena perempuan dengan leher jerapah inilah yang merupakan objek wisata dan daya tarik tersendiri yang memang dipromosikan gencar-gencaran. Zember menyadari penuh bahwa, lambat laun perempuan leher jerapah hanya dijadikan sebagai komoditi untuk mengeruk uang demi kepentingan penguasa saja, karena uang yang masuk untuk kesejahteraan desanya sangat kecil dibanding yang jatuh ke pihak pegnguasa. Inilah yang membuat dia tidak happy dan merasa dieksploitasi habis-habisan. Selama ini memang penguasa Thailand yang gencar mempromosikan suku Kayan daripada pemerintah Burma. Dan wanita berleher jerapah jauh lebih popular di Thailand daripada di Burma sendiri.

Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa wanita dengan leher jerapah masih merupakan objek wisata andalan yang banyak mendatangkan uang. Seperti diakui oleh salah seorang pemandu wisata yang bernama Wanchai Thiansiri. Sekitar 100 orang Kayan atau di Burma disebut Padaung, melarikan ke perbatasan Thailand akibat perang saudara yang makin intens terjadi di Burma sekitar akhir tahun delapan puluhan.

Masih menurut pengakuan Zember yang sejak berusia lima tahun tinggal di Thailand, wanita berleher jerapah sebagai objek wisata andalan, bahwa jika hendak memotret atau hanya sekedar memandangi mereka, turis harus merogoh kantong sekitar 250 baht. Dari seluruh penghasilan ini, setiap orang dari seluruh penghasilannya, memperoleh sekitar 1500 Baht per bulan.

Dear Kokiers,

Menurut salah satu kabar yang beredar, konon dulu jauh sebelum para wanita ini dikomoditikan sebagai objek turis, mereka para perempuan ini, tidak akan pernah melepaskan kerangkeng leher, lilitan ini akan terus menemani mereka sepanjang hayat. Kerangkeng leher menjadi bagian dari tubuh seorang wanita. Wanita baru akan dipaksa melepaskan kerangkengnya jika diketahui dia melakukan perzinahan, jadi pelepasan kerangkeng lebih merupakan sebagai bentuk hukuman belaka. Namun dewasa ini semakin banyak perempuan Padaung (Pa Dong) yang mengenyam pendidikan, mereka memilih melepaskan kerangkeng leher dengan suka rela.

Walau pelepasan kerangkeng ini akan menyebabkan tulang leher yang melemah dan permukaan kulit akan kebiruan dan akan tetap membekas selama hidup. Dan karena rata-rata yang melepas adalah generasi muda yang belum lama ber-kerangkeng, leher masih bisa diselamatkan. Tetapi bagi masyarakat tempo dulu atau yang masih sangat tradisional pemakain kerangkeng yang sudah berlangsung puluhan tahun , dan jika dilepas akan mengakibatkan leher perempuan tersebut sangat rentan dan mereka hanya mampu berbaring saja, seumur hidup. Dan inilah yang membuat seorang wanita berpikir ribuan kali sebelum melakukan perzinahan. Konon hukuman ini membuat perzinahan dan perceraian di suku Kayan sangat rendah.

Sebenarnya tidak saja kerangkeng leher yang dipraktekkan oleh wanita suku Kayan Padaung, namun juga pemakaian anting-anting besar dan berat di telinga yag mengakibatkan telinga tertarik panjang, dan juga kerangkeng yang berupa lilitan tembaga mirip yang dipasang di leher namun yang ini dipakai di kaki maupun di pergelangan tangannya. However, karena kerangkeng leher jauh lebih unik dan terkesan ’sadis’, maka kerangkeng telinga dan kerangkeng kaki menjadi kurang begitu popular dibanding kerangkeng leher.

Menurut legenda, khususnya yang berkembang di Burma, pada jaman dulu, hanya anak perempuan yang lahir di hari Rabu saja yang harus memakai kerangkeng leher, ini berdasarkan mimpi sang kepala suku yang konon bermimpi bahwa anak yang paling dicintai orang tua adalah mereka yang lahir di hari Rabu, dan anak yang lahir di hari Rabu akan dimakan harimau, sehingga untuk menghindari gigitan harimau, maka mereka harus dilindungi lehernya. Dan karena tidak pernah ada kasus anak yang digigit harimau, semenjak anak perempuan mereka di kerangkeng lehernya, maka dianggap bahwa pemasangan kerangkeng berhasil dan ini berlangsung turun temurun dan lambat laun menjadi tradisi dan kenyataan yang terjadi kerangkeng dipasang kepada anak yang lahir tidak di hari rabu saja melainkan berlaku ke semua anak perempuan.

Bagi orang luar, kerangkeng leher terlihat kejam dan tidak berperi kemanusiaan, namun tidak demikan bagi mereka, mereka sangat menikmati perhatian para turis yang datang untuk melihat dari dekat. Mereka tidak segan-segan memamerkan senyum manisnya … entah dengan tulus atau bermotivasikan uang… walahua’lam.

Epilog :
“So… selama ini kamu enjoy dengan kalung di lehermu?” Lebih jauh jurnalis bule tersebut bertanya.

“Of course… of course, that’s part of my body…” Ujar gadis berleher jerapah yang duduk di sampingnya tersebut mengakhiri bincang-bincangnya dengan sang jurnalis sambil tidak lupa memamerkan senyumnya yang manis.
sumber : kolomkita.detik.com