http://www.amren.com/ar/2008/06/11a--sprinter.jpg
Sebanyak 28 dari 38 pemegang rekor dunia lari cepat 100 meter dipegang oleh warga berkulit hitam. Kini, studi ilmuwan dua unversitas tahu apa penyebabnya. Simak berikut.

Studi peneliti Howard University di Washington dan Duke University di North Carolina menunjukkan alasan mengapa atlet berkulit hitam mampu mengalahkan ras lain dalam lomba lari. Menurut penelitian, perbedaan fisik pada panjang anggota tubuh dan struktur tubuh berarti pusat gravitasi cenderung lebih tinggi pada orang kulit hitam.

Sejak 1968, pemegang rekor dunia lari 100 meter pria adalah atlet kulit hitam. Sejak 1912, ketika Asosiasi Internasional Federasi Atletik (IAAF) mulai melacak pemegang rekor lari cepat itu, hanya ada 10 atlet yang tak berkulit hitam keluar dari 38 individu pemegang rekor dunia itu.

“Terdapat bukti penuh menunjukkan adanya perbedaan jelas dalam jenis tubuh di antara orang kulit hitam dan putih,” kata peneliti Edward Jones yang meneliti gizi, nutrisi dan komposisi tubuh remaja obesitas di Howard University .

“Ini merupakan pola nyata yang dijelaskan di sini. Apakah pelari tercepat itu dari Jamaika, Afrika atau Kanada. Kebanyakan pelari itu jika dilacak akan kembali lagi ke Afrika Barat pada umumnya”.

“Meski terdapat juga faktor budaya, semuanya bermuara pada struktur tubuh,” tambah Jones. Orang kulit hitam cenderung memiliki anggota tubuh lebih panjang dengan lingkar yang lebih kecil. “Artinya, pusat gravitasi mereka lebih tinggi dibandingkan orang kulit putih yang memiliki tinggi sama,” tambah profesor teknik Duke University , Adrian Bejan.

Orang Asia dan kulit putih cenderung memiliki torso (potongan tubuh dari bagian atas kepala sampai potongan paha) lebih panjang. Hal menyebabkan pusat gravitasi mereka lebih rendah.

“Perbedaannya memang kecil dan kita tidak benar-benar bisa melihatnya langsung pada seseorang. Kita selalu terjebak dengan pertanyaan, seberapa panjang kaki seseorang,” papar Bejan. Namun, perbedaan-perbedaan kecil ini tentunya berpengaruh pada balapan yang berlangsung selama kurang dari 10 detik itu.

Tinggi pusat gravitasi seseorang mempengaruhi seberapa cepat kaki bergerak ketika menyentuh tanah. Jadi, kaki seseorang dengan pusat gravitasi yang lebih tinggi akan menyentuh tanah lebih cepat dibanding orang yang pusat gravitasinya lebih rendah.

Dalam studi, para ilmuwan mengumpulkan data militer di 17 negara. Militer mengukur para calon tentara untuk menentukan ukuran seragam mereka dan data itu merupakan sumber data yang dapat diandalkan.

Untuk memperkirakan panjang tubuh, para ilmuwan membandingkan tinggi rata-rata tentara militer dengan tinggi ketika mereka duduk serta jarak kursi ke bagian atas kepala. Hasil studi menunjukkan, tinggi duduk rata-rata orang kulit hitam sekitar 3 cm lebih pendek dibanding orang kulit putih yang memiliki tinggi sama.

Artinya, antara orang kulit hitam dan kulit putih yang memiliki tinggi sama, kaki orang kulit hitam lebih panjang sedangkan torso orang kulit putih lebih panjang. Perbedaan fisik ini memberi keuntungan pada atlet kulit hitam.

Dari sudut pandang fisika, kaki berlari dan torso menjadi berat tambahan yang harus disokong kaki. Sebaliknya, orang kulit putih cenderung memiliki keuntungan di kolam renang dengan torso lebih panjang memungkinkan mereka berenang lebih cepat.

“Kolam menghasilkan gelombang. Olahraga ini merupakanseni untuk muncul ke permukaan gelombang. Ketika gelombang menjadi lebih besar, orang kulit putih bisa berenang lebih cepat karena torso mereka lebih panjang,” kata Bejan.

Studi ini diterbitkan online dalam International Journal of Design dan Nature serta Ecodynamics. [mdr]